Ketika hati terasa gundah, ketika konflik hidup menghampiri, maka tiada tempat sebaik-baiknya mengadu kecuali Allah SWT. Tiga Orang pemuda yang berdiri tegak sedang menatap masa depan, namun mereka sadar di perjalanan mereka menuju masa depan yang cerah tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Satu persatu rintangan mereka mulai hadapi. Disini diilustrasikan mereka adalah tiga orang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh di padang pasir yang panas.Saat diperjalanan air minum yang mereka bawa tertiup angin kencang sehingga tumpahlah semua persediaan air minum ketiga pemuda itu. Dalam cerita ini penulis memberikan ketiga pemuda nama Ali, Abu, dan Arif.
Ali : "Tamatlah riwayat kita, bekal kita habis, perjalanan masih panjang!"
Abu : "Arif, tolong ambilkan sepotong kayu!"
Arif : "Buat apa kayu tersebut?"
Abu : "Aku akan menuliskan sebuah kalimat ''Ya Allah tolonglah kami yang sedang dalam kesusahan dalam perjalanan ini'' di atas pasir.
Kemudian ketiga pemuda tersebut kembali melanjutkan perjalanan dengan susah payah tanpa bekal sedikitpun. Namun tidak lama setelah Abu menuliskan sebuah kalimat diatas pasir, bertiuplah angin kencang, dan terhapuslah kalimat yang ditulis Abu diatas pasir. Dan sungguh pertolongan Allah bersama mereka, ketiga pemuda itu menemukan telaga air segar di dekat padang pasir. Lalu Ali bertanya kepada Abu,
Ali : "Apakah ini pertolongan dari Allah kepada kita setelah kau menulis diatas pasir tersebut?"
Abu : "Ya, Ini pertolongan dari Allah kepada kita, maka mintalah kalian hanya kepada Allah!"
Kemudian Abu kembali menul;iskan sebuah kalimat tentang rasa syukurnya dan kebahagiaan mereka, namun kini ia menuliskannya itu di ukir di atas batu dekat telaga air, dan dia menuliskan "Ya, Allah terima kasih atas pertolongan yang Engkau berikan kepada kami."
Kembali Arif bertanya Abu tentang maksud dia menuliskan sebuah kalimat tersebut. "Apa maksudmu mengukir kalimat di batu itu?"
Abu : "Ini Wujud rasa syukur kepada Allah."
Dalam hidup kita tentunya akan menemui masa senang dan masa sulit, masa sulit disini digambarkan dengan tumpahnya bekal minum ketiga pemuda tersebut, dan maksud dari menulis di pasir itu adalah jika kita mendapatkan masa-masa sulit cukuplah dijadikan pelajaran jangan kita pendam terlalu lama masa sulit dan sedih itu, ibarat tulisan yang ditulis diatas pasir yang hilang ketika ditiup angin.
Sebaliknya, jika ketika mendapatkan kebahagiaan maka simpanlah masa-masa itu sebagai kenangan yang indah dalam hati yang tidak mudah untuk dilupakan ibarat tulisan yang diukir diatas batu.
Sebuah kisah, secercah harapan untuk kita semua bagaimana kita menghadapi masa lalu kelam dan masa-masa sulit yang seakan enggan untuk menjauh.
Penulis: Bayu Mahardika
- Staff Administrasi di Yayasan Hidayatul Islam Jakarta
- Graphic Designer of IQRAR 41
- Internet Marketing
- Penulis
Organisasi:
- eks Sekretaris Rohani Islam SMKN 41 Jakarta
- eks Koordinator ROHIS 41 untuk perwakilan MY CLUB ( Moslem Youth Club )
- Alumnus Program Bina ABG Yayasan Hidayatul Islam Jakarta
- Sekretaris IQRAR 41 (Ikatan Qolbu Remaja Alumni Rohis 41)
Comments
Post a Comment