Keberkahan Ramadhan
semakin terasa. Kaum Muslimin berlomba meraih keagungannya dengan berbagai
aktivitas penyucian diri. Lantunan Alquran dan zikir bergema di mana-mana,
masjid dan majelis taklim menjadi tempat favorit. Televisi dan media cetak pun
berlomba-lomba menyajikan tayangan Islami. Nuansa Ramadhan mampu menumbuhkan
syu'ur kaum Muslimin serta menjadi wadah penyucian diri (tazkiyah annafs) bagi
umat.
Idealnya, nuansa tazkiyah an nafs mampu
menjadi pijakan berpikir dan bermuhasabah menuju perbaikan menyeluruh. Seperti
terjadi pada masa Rasul dan sahabat. Sejatinya, salah satunya tujuan diutusnya
Rasulullah SAW adalah untuk membimbing manusia meraih jiwa yang suci. Jiwa yang
memungkinkan nilai-nilai perubahan menuju mardhatillah bisa tumbuh subur.
Difirmankan, Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul
dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan
mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya
mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata (QS Al Jumuah [62]: 2).
xÎm7|¡ç
¬!
$tB
Îû
ÏNºuq»yJ¡¡9$#
$tBur
Îû
ÇÚöF{$#
Å7Î=pRùQ$#
Ĩrà)ø9$#
ÍÍyèø9$#
ÉOÅ3ptø:$#
ÇÊÈ
2.
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara
mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan
mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
Lihatlah jiwa para
sahabat antara sebelum menjadi Muslim dan
sesudahnya. Sebelum
mengenal Islam, jiwa mereka terkotori debu-debu syirik, ashabiyah (fanatisme
suku), dendam, dengki, takabur, dsb. Namun setelah diwarnai risalah Islam,
mereka mengalami perubahan total. Jiwaya menjadi bersih, bertauhid, ikhlas,
sabar, ridha, zuhud dsb. Akhirnya,
peradaban baru pun muncul mengguncang dunia. Maka, ketika nuansa tazkiyah an
nafs selama Ramadhan tidak membawa perbaikan signifikan terhadap sistem dan
kehidupan bermasyarakat, tentu ada something wrong. Dan inilah fenomena yang
terjadi sekarang. Ibadah (ritual) tetap jalan, namun maksiat pun makin canggih
dan meluas.
Mengapa Terjadi?
Jika kita cermati,
setidaknya ada dua penyebab. Pertama, adanya penyempitan pengertian tazkiyah
annafs yaitu hanya sebatas aktivitas ritual-individual. Sehingga aktivitas
tazkiyah annafs baru mampu memotivasi individu untuk menjaga ibadah mahdhah
(shalat, zakat, puasa dll) yakni cukup dengan memperbanyak zikir secara lisan,
cukup dengan memperbanyak shalat-shalat sunnat, serta mengasah kemampuan
mengendalikan hati atau perasaan. Praktik-praktik tazkiyah an nafs seperti ini
menjadi sebuah keniscayan bagi seorang Muslim. Namun betulkah aktivitas
tazkiyah an nafs hanya sebatas praktik-praktik ibadah mahdhah saja yang seolah
tampak bersifat ritual, spiritual, serta individual. Sehingga keistikamahan
dari penyucian diri pun hanya sebatas individu saja dan bersifat sementara.
tazkiyah an nafs
diidentikan dengan proses menenangkan hati dan relaksasi. Kalangan medis pun
mendukung aktivitas ini karena mampu untuk mengobati penyakit yang disebabkan
stres akibat beban hidup yang makin berat. Sebatas itukah hakikat tazkiyah an
nafs dalam Islam? Kurang lengkap kiranya, ketika seseorang berusaha keras
menyucikan diri, namun aktivitasnya tetap berhubungan dengan riba, pergaulan
bebas, korupsi, dsb.
Makna Tazkiyah An
Nafs
Tazkiyah annafs memiliki arti penyucian diri
atau jiwa. Secara bahasa, tazkiyah annafs berasal dari dua kata yakni tazkiyah
dan nafs. Tazkiyah berasal dari kata zakka-yuzzaki-tazkiyah yang maknanya sama
dengan tathir yang berasal dari kata thahhara-yuthahhiru-tathir[ah] yang
berarti pembersihan, penyucian atau pemurnian (lihat: Atabik Ali & Ahmad
Zuhdi Mudlor, 1996 hlm 496; juga Ar Razi, 1995: 1/115).
Sedangkan annafs adalah kata yang multimakna
(musytarak). Dalam sebagian kamus bahasa Arab kata nafs sering diterjemahkan
dengan diri, jasad, jiwa, ruh atau kalbu. Bahkan nafs pun diartikan dengan
darah. Sehingga wanita yang melahirkan dikatakan sedang nifas. Artinya banyak
mengeluarkan darah.
Secara istilah nafs dikemukakan Ibnu Abbas
sebagaimana dikutip Ibnu Mazhur dalam kamus Lisanul Arab, bahwa manusia
memiliki dua nafs, [1] nafs al a'ql (akal) yang dengan akal manusia mampu
mengidentifikasi dan berpikir; [2] nafs ar ruh yang dengan ruh ini manusia
hidup.
Jika kita memaknai kata nafs secara bahasa
semata, maka akan melahirkan perbedaan di dalam memahami konsep tazkiyah an
nafs. Karena konsep yang dipahami berbeda, maka aksi yang dilakukan dalam
rangka tazkiyah an nafs pun berbeda-beda.
Tazkiyah an nafs
dalam Alquran
Dalam Alquran ada beberapa pengertian
tazkiyah an nafs. Pertama, menyucikan diri dari kemusyrikan dan kekufuran.
Dalam QS Al Jumuah [62] ayat 2, salah satu kata berbunyi yuzakkihim memiliki
makna ”menyucikan diri dari najis dan kekufuran” (Ath Thabari, 28/93). Najis di
sini menunjukkan orang-orang musyrik (QS At Taubah [9]: 28). Sedangkan menurut
Al Qurthubi kata yuzakkihim bisa bermakna ”menjadikan kalbu-kalbu mereka suci
dengan keimanan”.
Kedua, bermakna ”menyucikan diri dari
keburukan-keburukan amal perbuatan, dengan melakukan amal-amal saleh”. Abi Saud
menyimpulkan dalam kata yuzakkihim merupakan tugas Rasul yang membawa manusia
pada kesucian; suci akidah dan amal perbuatannya (Abi As Saud, 8/247).
Ketiga, menjalankan ketaatan kepada Allah
SWT. Dalam QS Asy Syam [91] ayat 60 terdapat frasa man zakkaha. Menurut Al
Qurthubi frasa ini bermakna ”siapa yang disucikan jiwa oleh Allah dengan
ketaatan kepada-Nya”. Hal senada dikemukakan pula oleh Ibnu Katsir.
Keempat, tidak memiliki dosa atau bertobat
dari dosa-dosa (QS Al Kahfi [18]: 74).
Kelima, totalitas keimanan dan ketaatan
kepada Allah SWT (QS Thaha[20]: 76). Menurut Ibnu Katsir dalam ayat ini
terdapat kata man tazakka yang bermakna menyucikan dirinya dari dosa, keburukan
dan syirik. Hanya menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, senantiasa
mengikuti segala perbuatan baik sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Bisa kita simpulkan bahwa konsep tazkiyah an
nafs mencakup dua poin penting yakni memurnikan keimanan kepada Allah SWT dan
menjalankan ketaatan secara total kepada-Nya.
Maka jelas, konsep tazkiyah an nafs
(penyucian diri/jiwa) mencakup aktivitas akal, hati, dan anggota tubuh.
Mencakup keimanan dan amal saleh. Intinya, mencakup seluruh ketaatan kita dalam
menjalankan perintah Allah secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Tanpa
semua itu, hakikat tazkiyah an nafs tidak akan memberikan pengaruh fundamental
bagi kaum Muslimin, selain dalam tataran individu saja. Wallaahu a'lam.
Comments
Post a Comment